Fakta Menarik Di Balik Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat adalah sebuah bangunan masjid yang telah menjadi salah satu destinasi yang sangat populer khusus nya di wilayah Padang, Sumatera Barat. Pasalnya, sebagai destinasi religi, masjid raya padang ini memiliki keunikan dan juga sangat bermanfaat menyejukkan mata dengan pemandangan yang indah dan tentunya sangat menginspirasi.

Masjid Raya Sumatera Barat resmi mulai dibangun pada tahun 2007, dan selesai pada tahun 2016. Orang yang merancang masjid ini bernama Rizal Muslimin. Yang mana beliau ini merupakan pemenang sayembara desain masjid yang diikuti setidaknya ada 323 arsitek dari berbagai negara di dunia.

Fakta Menarik Di Balik Masjid Raya Sumatera Barat

Diketahui bahwa Masjid Raya Sumatera Barat atau Masjid Raya Padang ini merupakan masjid terbesar dan juga termegah yang mana berdiri kokoh di provinsi Sumatera Barat. Dan dengan adanya Masjid ini telah menjadi ikon tersendiri bagi Kota Padang dan dikenal pula dengan sebutan Masjid Mahligai Minang.

Keunikan Masjid Raya Sumatera Barat

Secara geografis Masjid Raya Padang ini berada di Jalan Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Kota Padang Utara dan dibangun di atas lahan seluas 1000 ribu meter persegi, dengan luas bangunan hingga mencapai 18 ribu meter persegi.

Tak serupa masjid pada umumnya, masjid ini justru tak memiliki bangunan berupa kubah masjid, melainkan hanya memiliki atap dengan ciri khas budaya Minangkabau. Yakni,pada bagian atap nya memiliki desain Rumah Gadang dengan pilar ada empat sudut lancip, sedangkan bangunannya berbentuk sebuah gonjong.

Rancangan unik kubah ini rupanya di sengaja. Masjid berkubah unik ini rupanya dirancang secara khusus untuk tahan dan akan kokoh terhadap bencana alam seperti gempa bumi hingga frekuensi mencapai 10 magnitudo. Masjid Agung Sumatera Barat ini juga bisa digunakan untuk shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-sewaktu terjadi bencana alam.

Sementara itu referensi lain mengatakan bahwa atap bangunan di buat menyerupai Gadang ini sebenarnya mempunyai pesan yang syarat akan filosofis dan menggambarkan bentuk bentangan kain yang sedang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad, ketika empat kabilah suku Quraisy di Makkah berselisih tentang pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu tersebut ke tempat semula setelah Ka’bah selesai direnovasi. Maka,kala itu Baginda Nabi Muhammad SAW kemudian mengusulkan agar batu Hajar Aswad diletakkan di atas selembar kain putih agar masing-masing dari empat kabilah tersebut dapat mengangkatnya secara bersamaan

Rizal Muslimin adalah salah seorang arsitek terkenal dibalik hadirnya bangunan masjid unik terbesar dan termegah ini. Rizal sendiri adalah pemenang dari sayembara arsitektur yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara.

Interior Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat  ini terdiri atas ada tiga lantai. Untuk bagian lantai pertama digunakan sebagai tempat wudhu serta toilet dan ada sedikit juga tempat tambahan jika pada lantai utama para jemaah sudah penuh.

Kemudian untuk bagian lantai dua adalah ruang utama dalam masjid yang digunakan sebagai tempat utama ketika menunaikan shalat berjamaah. Sedangkan lantai tiga juga bisa difungsikan sebagai tempat alternatif untuk para jamaah shalat, atau sebagai tempat istirahat jika pengunjung sudah mulai sepi.

Secara teoritis skema masjid Raya Sumatera Barat ini menyerupai  Hajar Aswad, yakni terdapat pada interior masjid dan juga pada bagian mihrab juga banyak dihiasi pula oleh ukiran dengan lafadz Asma’ul Husna yang berwarna keemasan di sebuah latar kain bersih berwarna putih.

Pada bagian bawah lantai masjid raya Sumatera Barat ini  juga sangat menarik karena dilengkapi dengan karpet permadani yang mempunyai warna merah merona yang sering sekali digunakan sebagai sajadah, dan karpet ini merupakan hadiah dari Pemerintah Turki.

Keunikan serta fungsi masjid yang berbeda dari masjid pada umumnya, ditambah lagi dengan keindahan serta tampilan desain yang ditampilkan begitu memukau, dan dalam hal ini telah menjadikan mahakarya milik Rizal Muslimin menjadi destinasi wisata religi yang sangat populer dan menarik untuk dikunjungi.

Arsitek utama masjid raya Sumatera Barat ini adalah Rizal Muslimin, yakni seorang juara pertama dalam bidang kompetisi arsitektur nasional pada tahun 2016 dalam tema religius. Desain masjid ini ternyata terinspirasi dari tiga buah simbol: yakni sumber mata air, bulan sabit, dan rumah gadang.

Sejak pertama kali dibangun, masjid ini belum pernah dipugar ataupun di renovasi secara besar-besaran kecuali hanya sebagaian saja untuk penambahan bangunan depan sepanjang 20 meter yang dilakukan tahun 2017, pengelolaan masjid ini diambil alih oleh pemda kota Padang dan diserahkan kepada masyarakat seluruh Kota Padang untuk mengurusnya. Karenanya masyarakat Kota Padang memang sangat menjaga keberadaan masjid yang dinilai memiliki keunikan dari masjid manapun di Indonesia.

Bangunan lain yang terdapat dalam kompleks Masjid Raya Padang ini antara lain tempat wudhu yang mempunyai ukuran 10×3 m yang mana terletak di samping utara dan selatan serambi bagian samping. Untuk tempat wudhunya dibuat permanen dan sedikit tertutup.

Perpustakaan masjid ini juga menempati sebuah ruangan yang cukup sederhana di sisi utara masjid dan masih menyatu dengan bangunan utama masjid di lantai 2.

Masjid ini desainnya telah mencoba untuk sedikit menggabungkan unsur sejarah Islam dan juga tradisi nenek moyang di Kota Padang, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendikan kepada agama, dan agama bersendikan kitabullah [al-Quran]).

Kontruksi bangunan masjid ini  bertingkat yang terdiri dari tiga lantai, lantai pertama masjid yang mana semula digunakan sebagai tempat wudlu dan juga tempat untuk tambahan jamaah ketika sudah membludak jika pada lantai utama atau lantai ke dua terasa sesak,maka hal ini harus dimaklumi dan di harap untuk antri terlebih dahulu.

 Masjid Raya Sumatera Barat ini ternyata juga mempunyai julukan yang cukup unik,yakni Masjid Seribu Pintu Angin,yang mana Masjid ini didesain secara khusus oleh arsitek bernama Rizal Muslimin. Memiliki cukup banyak pintu masuk dan, membuat masjid ini dijuluki dengan nama Masjid Seribu Pintu Angin. Di bagian samping Masjid Raya terdapat menara yang bercorak seperti Masjid Nabawi yang ada di Madinah, yang membuat masjid ini terlihat semakin megah.

Lalu juga hal yang tak kalah unik adalah bahwa masjid ini telah banyak mengusung tema dengan ciri khas Budaya Minang,yang mana terletak pada bagian atap Masjid Raya Sumatera Barat ini,selain atapnya yang sangat mirip dengan rumah gadang, di satu sisi juga memiliki corak ukiran khas sekali dengan budaya Minangkabau di dinding-dindingnya. Ruang utama pada bangunan masjid ini juga dipenuhi berbagai macam interior serta ukiran khas budaya Minang dan juga kaligrafi berukuran besar. Bagian Mihrabnya seperti hajar aswad dan terdapat ukiran asmaul husna berwarna emas.

Hingga kini Masjid Raya Sumatera Barat Atau dikenal juga dengan Masjid raya Padang masih sering dikunjungi oleh pejabat dan tamu juga negara yang beragama Islam jika berkunjung ke Padang dan objek wisata sejarah bagi wisatawan asing.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>